Tampilkan postingan dengan label Seri Bengkel hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seri Bengkel hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

Sinergisme (al Ta’awun) Duniawi dan Ukhrawi
Oleh: Nashiruddin Ahmad Baijuri*

Manusia sebagai khalifah diberi tugas untuk melaksanakan manajerial Tuhan: menjamah lingkungan serta melakukan transformasi sosial. Sebagai seorang muslim kita harus melangkah: bekerja, berpolitik, berkesenian, dan sebagainya. Tujuan yang kita gapai dari semua itu adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. ditengah-tengah lingkungannya pada zaman itu. Konon, Rasulullah saw. sebelum di utus untuk menyebarkan Islam, Rasulullah juga melakukan aktifitas sebagaimana manusia biasanya, dalam sejarahnya beliau pernah menjadi penggembala yang terpercaya dan pedagang yang jujur .

Dari sejarah kehidupan Rasulullah dapat kita ambil kesimpulan, bahwa idealnya seseorang di dalam menjalani kehidupan ini haruslah menyeimbangkan kepentingan duniawi dan ukhrawi. Yakni hidup tidak hanya bersifat ubudiyah interaksi kepada Tuhan semata, melainkan juga ber-mu’amalah kepada sesama manusia. Hidup tidak hanya memiliki “kesalehan ritual” yang hanya mementingkan ibadah mahdlah, ibadat yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Sangat tekun melakukan sholat, puasa, dan seterusnya; namun tidak perduli akan keadaan sekelilingnya (hanya hablun minallah). Melainkan dalam tugas kekhalifahannya di muka bumi manusia juga dituntut memiliki “kesalehan sosial” yakni memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya (hablun minan naas).

Namun di dalam menjalankan tugasnya, manusia sering menemukan kendala diri karena dia memiliki cara berpikir ganda. Misalnya, ketika dia melihat seseorang dalam kesulitan keuangan, dia akan berpikir: "kalau dia tidak saya tolong, kasihan. Tetapi kalau saya tolong, nanti harta saya berkurang...". Perdebatan antara perbedaan terjadi karena manusia memiliki dua potensi . Ruh Hayati yang selalu menuntut agar jasmani kita sejahtera, abadi di bumi, ditentang ruh Idhafi yang senantiasa ingin kembali kepada Tuhan. Dialog memperjuangkan kepentingan fisikal (oleh ruh hayati) dan kepentingan spiritual (oleh ruh idhafi) tidak pernah berakhir manakala kita sendiri tidak menentukan langkah apa yang mesti kita lakukan. Di sinilah manusia diberi kemerdekaan untuk menjadi dirinya sendiri.

Pada zaman dahulu, para brahma, biksu, rahib-rahib, dan orang-orang suci yang telah ma'rifah billah tidak berani menyimpan harta. "Di dalam rumah saya tidak boleh ada harta. kalau saya bekerja mendapatkan uang sepuluh ribu, dua ribu untuk makan, maka yang delapan ribu harus saya akhiratkan." Bagian hidupnya di dunia dilupakan, semua dianggarkan untuk akhirat . Sistem agama dahulu memang demikian. Tetapi hal ini sekarang tidak lagi relevan, karena setiap orang harus sanggup menopang dirinya sendiri selain harus menolong orang lain. Orang yang hanya menolong pihak lain berarti hanya melaksanakan manajerial Tuhan tanpa mengembangkan diri. Kehidupannya hanya untuk akhirat tanpa meni’mati keni’matan Allah yang diberikan di dunia. Padahal kita harus mendapatkan dunia kita untuk bisa menolong dua kali hingga seribu kali, kita harus memiliki sisa sebagai aset yang bisa dikembangkan.

Proses sebuah ikhtiar untuk sanggup menopang diri sendiri selain harus menolong orang lain adalah dalam rangka menjaga agar tidak menyiksa keadaan sendiri, yang bisa-bisa akan mengarahkan kepada sebuah kefakiran dirinya sendiri. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda: “kefakiran cenderung mengarahkan kepada kekufuran” . Hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik tersebut merupakan sebuah rambu-rambu, bahwa dalam menghadapi hidup kita harus sedapat mungkin untuk menjauhkan diri dari kefakiran. Yang dalam hal ini, seseorang harus dapat memenuhi kebutuhan sendiri, selain membantu orang lain.

Allah telah memberikan petunjuk agar kita tepat dalam bersikap; tidak memenangkan satu kekuatan (ruh) dan mematikan kekuatan yang lain. Keduanya, baik kekuatan fisikal (ruh hayati) maupun kekuatan spiritual (ruh idhafi), harus sama-sama dimenangkan. Win-win solution; mencapai kebahagiaan di akhirat dengan tidak melupakan kebahagiaan di dunia. Petunjuk untuk mensinergikan keduanya terdapat di dalam firman-Nya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” .

Ayat tersebut mengandung “peringatan” agar jangan melupakan (kenikmatan) dunia, “peringatan” itu jelas dalam konteks perintah untuk mencari kebahagiaan akhirat. Seolah-olah Allah– wallahu a'lam– “sekadar” memperingatkan, supaya dalam mencari kebahagiaan akhirat janganlah lalu kenikmatan duniawi yang juga merupakan anugerah-Nya ditinggalkan . Menurut tafsir Ibn Abbas, “Walaa tansa nasiibaka min ad-dunya” diartikan “Janganlah kamu tinggalkan bagianmu dari akhirat karena bagianmu dari dunia” .

Oleh karena itu, setiap hendak melakukan sesuatu perbuatan harus ada kompromi (dialog ruh), selanjutnya di dalam berinteraksi dengan orang lain, kita juga harus melakukan kompromi yang serupa. Inilah yang disebut moment of creation, yaitu momen mencipta yang senantiasa membutuhkan pendekatan dan pengorbanan. Kita tidak hanya mencari keuntungan akhirat, tapi juga keuntungan dunia, kita tidak hanya mencari kemenangan sendiri, tetapi harus memikirkan pula kemenangan orang lain. Misalnya, kompromi antara penjual dan pembeli, antara pemimpin dan yang di pimpin, antara bapak dan anak. Kedua pihak harus ada interaksi dengan tidak menggunakan kekuasaannya. Bahwa setiap manusia merasa memiliki kekuasaan, sehingga cenderung akan menggunakannya dalam upaya memaksakan kehendak .

Rasulullah saw. telah bersabda, “I'mal lidunyaaka kaannaka ta'iesyu abadan wa'mal liakhiratika kaannaka tamuutu ghadan”, yang galibnya berarti “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi dan beramallah kamu untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok pagi”. Hadis ini dapat kita pahami dengan pemahaman “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup abadi.” Nah, karena kamu akan hidup abadi, jadi tak usah ngongso dan ngoyo, tak perlu ngotot. Sebaliknya, untuk akhiratmu, karena kamu akan mati besok pagi, bergegaslah. Sehubungan dengan itu, ketika kita mengulang-ulang doa, “Rabbanaa aatina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah,” bukankah kita memang sedang mengharapkan kebahagiaan (secara materiil) di dunia dan kebahagiaan (surga) di akhirat. Pendek kata, jika tak mau mengartikan dalil-dalil tersebut sebagai anjuran berorientasi pada akhirat, bukankah tidak lebih baik kita mengartikan saja itu sebagai anjuran untuk memandang dunia dan akhirat secara proporsional (berimbang yang tidak mesti seimbang) .

Fenomena kehidupan beragama kaum Muslim dewasa ini, dimana memang sering kita jumpai sekelompok orang yang tekun beribadat, bahkan berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan sangat bebal terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas, misalnya. Seolah-olah Islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Sebaliknya juga, sering dijumpai orang-orang Islam yang sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, kelihatan begitu mengabaikan “ibadat pribadinya”. Padahal semuanya tahu tentang hak-hak hablun minallah dan hablun minan nas.

Inilah yang menjadi permasalahan kita bersama, sebagai muslim sebenarnya kita memiliki dua tuntutan sekaligus, antara hablun minallah dan hablun minan nas. Antara interaksi kita kepada manusia dalam rangka menejerial bumi dan interaksi kita kepada Tuhan dalam rangka tugas kita sebagai ciptaan-Nya yang harus menundukkan diri kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” .

*Nashiruddin Ahmad Baijuri adalah Kepala Madrasah Aliyah Mathla’un Najah Bragung

Senin, 30 Mei 2011

Mari Bersyukur (3)
al Syukr bi al Arkan
oleh: Nashiruddin Ahmad Baijuri*

Bersyukur (menghargai nikmat) dengan perbuatan; Ibnul-Qayyim mengatakan ada 2 cara menghargai nikmat dgn perbuatan; pertama: menceritakan nikmat tersebut, dan kedua: menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang diridhai Allah. Yang pertama dalilnya surah Adh-Dhuha ayat 11: Wa Amma Bini'mati Rabbika Fahaddits;artinya: "Adapun dengan nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah".

Menceritakan nikmat Allah ialah dalam rangka ingin berbagi bukan untuk pamer atau riya. Dan yg kedua dalilnya surah Al-Qashash ayat 77: "Wab-taghu Fima Atakallahud-Darul-Akhirah Wa La Tansa Nashibaka Minad-Dun-ya"; artinya: "Dan carilah dengan apa yang Allah anugerahkan kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu lupakan bagian-mu dari (kenikmatan) dunia.

Ayat ini dengan jelas memerintahkan menggunakan potensi-potensi nikmat yang Allah berikan, seperti harta, kesehatan, ilmu dsb untuk mencari kebahagiaan akhirat, bukan untuk mencari kesenangan dunia; namun ayat ini juga mengingatkan untuk tidak melupakan bagian kenikmatan dunia, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang dihalalkan oleh Allah. Dan orang yang menggunakan potensi-potensi nikmat untuk mencari akhirat akan memperoleh keutamaan yang luar-biasa.

Nabi saw bersabda: "Wa Man Kanatil-Akhiratu Niyyatahu Jama'allahu Lahu Amrahu, Wa Ja'ala Ghinahu Fi Qalbihi, Wa Atathud-Dun-ya Wa Hiya Raghimatun"; artinya: "Siapa-saja yang niatnya mencari akhirat,maka Allah akan menyelesaikan semua persoalannya, dan menjadikan kekayaan di hatinya; dan Dunia pun akan datang kepada.nya dengan menunduk". (H.R. Ibnu Majah).

Inilah makna bersyukur atau mensyukuri (menghargai) nikmat yang sesungguhnya; dengan lisan, hati dan perbuatan. Ibnul-Qayyim berkata: "Fa-idza Fa'ala Dzalika Faqad Syakaraha"; artinya: "Siapa-saja yang telah melakukan -- ke-3 (tiga) hal-- ini, maka ia benar-benar telah bersyukur".

Dan dengan bersyukur seperti ini, segala nikmat yang dimiliki akan terjaga, tidak akan lepas, bahkan akan semakin bertambah. Inilah yang dimaksud dengan: La-in Syakartum La-azidannakum" (Surah Ibrahim ayat 7); artinya: "Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah --nikmat-- untuk kalian.

Disamping bersyukur kepada Allah, kita juga diperintah untuk bersyukur kepada manusia; yaitu menghargai jasa atau perbuatan oranglain terhadap kita. Sabda Nabi saw.: "Man Lam Yasykurin-Nasa Lam Yasykuril-Laha"; artinya: "Siapa-saja yang tidak bersyukur --menghargai-- manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah".

Dalam hal ini kita bisa menyaksikan dan mencontoh Rasulullah saw; betapa Beliau sangat menghargai manusia, khususnya para sahabatnya yang setia. Dan Beliau saw melarang siapa pun mencaci sahabatnya, sabda Beliau: "La Tasubbu Ash-habi"; artinya: "Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Sekian (Wallahu A'lam)

* Nashiruddin Ahmad Baijuri adalah Kepala Madrasah Aliyah Mathla'un Najah Bragung

Sabtu, 21 Mei 2011

Mari Bersyukur (2)
al Syukr bi al Qalb
oleh: Nashiruddin Ahmad Baijuri

Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkan bersyukur dengan hati dengan "Al-I'tirafu Bi an Ni’ami Bathinan"; artinya: "Mengakui nikmat tersebut secara batin". Maksudnya, hatinya benar-benar mengakui bahwa nikmat itu se-mata-mata pemberian Allah. Bersyukur dengan hati lebih sulit daripada bersyukur dengan lisan/ucapan. Rasulullah saw telah memerintahkan hal ini, sabda Beliau: "Liyattakhidz Ahadukum Qalban Syakiran.."; artinya: "Hendaklah tiap seseorang diantara kalian --berusaha-- membuat hatinya selalu bersyukur...". Bagaimana petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. untuk membuat hati selalu bersyukur kepada Allah?

Bersyukur dengan hati atau membuat hati selalu bersyukur kepada Allah, dilakukan dengan 2 (dua) cara:
Pertama, Selalu mengingat nikmat Allah, terutama sekali nikmat Al-Quran dan Hikmah, sebagaimana firman Allah: "Wadzkuru Ni'matallahi 'Alaikum Wa Ma Anzala 'Alaikum-minal-Kitab Wal-Hikmah Ya'izhukum Bihi". Artinya: "Dan ingatlah selalu akan nikmat Allah, dan juga apa yang Dia turunkan untuk kalian dari Al-Kitab (Al-Quran) serta Hikmah; yang dengannya (Al-Quran), Dia memberi nasehat kepada kalian" (Surah Al-Baqarah :231). Hikmah ialah: Perkara yang benar dan lurus, keadilan, pengetahuan dan sikap santun. Ayat ini menyatakan bahwa Al-Quran dan Hikmah adalah nikmat yang besar yang harus selalu diingat.

Ibnu Hajar mengatakan: Mengingat ayat-ayat Allah dan nikmat-nikmat Allah akan melahirkan 4 (empat) sikap utama: (1) Tauhid; yaitu percaya sepenuhnya terhadap ke-Esaan Allah dalam. Dzat, Perbuatan dan Sifat; tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya; (2) Keyakinan: yaitu yakin terhadap semua janji-janji Allah; (3) Rasa Cinta kepada Allah, dan (4) Perasaan bersyukur atau kesyukuran hati.

Kedua, ialah dengan memperbanyak berdzikir; yaitu mengingat dan menyebut nama Allah; sebagaimana firman-Nya: "Fadzkuruni Adzkurkum, Wasy-Kuruli Wa La Takfurun"; artinya: "Maka berdzikirlah (ingatlah) kalian kepada-Ku, maka Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada.-Ku, dan jangan mengingkari --nikmat--Ku. (Surah Al-Baqarah:152).

Disebutkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah: "Wahai Rabb-ku, bagaimanakah cara aku bersyukur kepada Mu". Maka Allah SWT menjawab:"Tadzkuruni Wa La Tansani, Fa-Idza Dzakartani Faqad Syakartani, Wa Idza Nasitani Faqad Kafartani"; artinya: "Berdzikirlah (Ingatlah) engkau senantiasa kpd.-Ku; jangan engkau lalai (lupa) dari –mengingat-Ku, maka jika engkau senantiasa berdzikir kpd.-ku; berarti engkau bersyukur kepada-.Ku; dan jika engkau lalai (lupa) dari --mengingat--Ku, maka berarti engkau mengingkari --nikmat--Ku. Jadi, banyak berdzikir kepada Allah akan mendorong hati bersyukur kepada nikmat Allah. Inilah pengikat nikmat yang kedua; bersyukur dengan hati.

Nabi saw. menunjukkan cara menjaga hati agar tetap mensyukuri nikmat Allah, beliau bersabda: "Idza Nazhara Ahadukum Ila Man Fudhdhila 'Alaihi Fil-Mal Wal-Khalq, Fal-yanzhur Ila Man Huwa Asfala Minhu"; artinya:"Jika seorang dari kalian melihat orang lain yang diberi kelebihan dalam harta dan ketampanan, maka hendaklah ia melihat orang yang di bawahnya" (H.R. Muslim). Dalam hadits lain, sabda Nabi saw:"Fahuwa Ajdaru An-La Tazdaru Ni'matallahi 'Alaikum" artinya: "Maka --melihat orang yang di bawah kalian-- merupakan sikap yang tepat untuk tidak meremehkan nikmat Allah pada Kalian" (Muttafaqun 'Alaih). Yang dimaksud "melihat orang yang di bawah" ialah: "Org yang kondisi ekonomi berada dibawah kita, lebih susah dari kita, banyak mendapat cobaan seperti: sakit, cacat fisik, buta dsb." "Dan jangalah engkau tujukan pandangan mata-mu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan Dunia,agar Kami uji mrk. dengan kesenangan itu. Karunia Rabb-mu lebih baik dan lebih kekal" (Surah Thaha ayat 131).

Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi: "An-Nazharu Sahmun Min Sihami Iblis, Wa Man Tarakahu Makhafati Abdaltuhu 'Ibadatan Yajid Halawataha"; artinya: "Pandangan (mata) merupakan panah dari panah-panah Iblis yang beracun. Dan siapa-saja yang meninggalkannya --tidak mengikuti dorongannya-- karena merasa takut kepada-Ku (Allah), maka Aku akan memberi ganti untuknya dengan ibadah (ketaatan) yang ia dapat merasakan manisnya --ketaatan –“

* Nashiruddin Ahmad Baijuri adalah Kepala Madrasah Aliyah Mathla’un Najah

Jumat, 20 Mei 2011

Mari Bersyukur (1)
al Syukr bi al Lisan
Oleh: Nashiruddin Ahmad Baijuri*

Syukur adalah "menghargai nikmat" dan tidak menghinanya. Nabi saw memberi petunjuk yang jelas dalam hal ini, sabda Beliau: "Man Lam Yasykuril-Qalil Lam Yasykuril-Katsir".
Artinya:"Siapa-saja yang tidak bisa menghargai --nikmat-- yg sedikit, maka ia tidak akan bisa menghargai --nikmat-- yang banyak". Ini merupakan tahapan awal di dalam konsep syukur, yaitu dimulai dari yang paling kecil dan sederhana.

Mensyukuri atau menghargai nikmat, akan membuat nikmat semakin bertambah, sebagaimana firman Allah: "La-in Syakartum La-azidannakum", artinya: "Niscaya jika kalian bersyukur (menghargai), pasti Aku (Allah) akan menambah --kenikmatan-- untuk kalian" (Surah Ibrahim (14) ayat 7). Persoalannya adalah, Bersyukur yang bagaimana yang bisa menambah kenikmatan?
Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa cara mensyukuri nikmat Allah itu ada 3 (tiga); (1) Lisan/Ucapan (2) Hati (3) Perbuatan.

Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkan 3 (tiga) hal ini sebagai Qaidun-Ni'mah (Pengikat Nikmat); yaitu 3 (tiga) hal yang membuat nikmat menjadi terikat, tidak lepas, tidak berkurang apalagi hilang, bahkan nikmat itu akan bertambah terus. Nah, bagaimanakah cara bersyukur atau menghargai nikmat dengan lisan/ucapan? Pada dasarnya, manusia tidak akan mampu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak, dan tak terhitung, sebagaimana firman-Nya: "WA In Ta'uddu Ni'matallahi La Tuhshuha"; artinya: "Jika kalian --mencoba--menghitung nikmat Allah, pasti kalian tidak bisa menjumlahnya" (Surah Ibrahim (14) ayat 34). Karena itu Allah memberikan kalimat yang luar -biasa; yaitu: Al-Hamdulillah.

Ibnu 'Abbas mengatakan: "Al-Hamdulillah Kalimatusy-Syukri"; artinya:"Al-Hamdulillah adalah kalimat untuk bersyukur". Yaitu, dengan ucapan Al-Hamdulillah, seseorang sudah dapat disebut bersyukur atau mensyukuri/menghargai nikmat Allah. Dan inilah yang disebut bersyukur dengan lisan/ucapan. Nabi saw bersabda: "Ma An'amallahu 'ala 'Abdin...
Artinya: "Tidaklah Allah memberi suatu kenikmatan kepada seseorang, lalu ia mengucapkan Al-Hamdulillah, melainkan ucapan hamdalahnya itu lebih istimewa (afdhal) dari nikmat tsb".(H.R.Ath-Thabrani). Maksudnya,jika seseorang mendapat nikmat, lalu ia mengucapkan Al-Hamdulillah, maka nilai atau kontribusi ucapan itu lebih besar dan lebih dahsyat dari nikmat yang dia peroleh. Inilah kehebatan kalimat "Al-Hamdulillah".

Masih tentang kehebatan ucapan Al-Hamdulillah, Nabi saw bersabda: "Law Annad-Dun-ya Kullaha wa Ma fiha Fi Yadi Rajulin Min Umati, Tsumma Qala:Al-Hamdulillah, Lakanal- Hamdu Afdhala Min Dzalika"; artinya: "Seandainya Dunia seluruhnya, beserta isinya diberikan kepada seorang dari umat-ku, lalu ia berkata: Al-Hamdulillah, maka ucapan Al-hamdu itu lebih utama dari itu semua".(H.R.Al-Hakim).

Hadits ini menyatakan betapa luas dan besarnya keutamaan ucapan Al-Hamdulillah, lebih luas dan besar daripada Dunia dan se-isinya. Bahkan ucapan Al-Hamdulillah mendatangkan keridhaan Allah sebagaimana sabda Nabi saw: "Innallaha Ta'ala Layardha 'Anil-'Abdi An-Ya'kulal-Aklata Aw Yasyrabasy-Syurbata Fayahmadullaha 'Alaiha";artinya: "Sungguh Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba, jika ia mengkonsumsi makanan atau minuman, ia selalu mengucapkan Al-Hamdulillah" (H.R.Ahmad,Muslim,At-Tirmidzi dan An-Nasa-i).

Ibnu 'Abbas berkata:"Al-Hamdulillah Kalimatu Kulli Syakirin"; artinya:"Al-Hamdulillah adalah kalimat --yang diucapkan oleh-- setiap org yg bersyukur". Inilah ilmu tentang bersyukur dengan "lisan/ucapan" yang diajarkan Rasulullah saw. Sepantasnyalah kita mulai mendidik diri kita untuk bersyukur yaitu menghargai nikmat Allah dengan lisan kita.

Sebagai penutup kajian ini, terdapat sabda Rasulullah saw yang bisa dijadikan bahan renungan: "Ma An'amallahu 'Abdan Ni'matan Faqala: Al-Hamdulillah, Illa Kanalladzi A'tha Afdhal Min-Ma Akhadza"; artinya:"Tidaklah seorang hamba diberi nikmat oleh Allah, lalu ia mengucapkan: Al-Hamdulillah, melainkan --ucapan-- yang dia berikan itu lebih utama dari --nikmat-- yang dia peroleh (H.R. Ibnu Majah)

* Nashiruddin Ahmad Baijuri adalah Kepala Madrasah Aliyah Mathla'un Najah Bragung